Translate

Friday, June 7, 2013

Gejala dan Ciri-rici dari tetanus

Tetanus adalah suatu toksemia akut yang disebabkan oleh neurotoksin yang 
dihasilkan oleh Clostridium tetani ditandai dengan spasme otot yang periodik dan 
berat. Tetanus ini biasanya akut dan menimbulkan paralitik spastik yang disebabkan 
tetanospasmin. Tetanospamin merupakan neurotoksin yang diproduksi oleh 
Clostridium tetani. Tetanus disebut juga dengan "Seven day Disease ". Dan pada tahun 1890, 
diketemukan toksin seperti strichnine, kemudian dikenal dengan tetanospasmin, 
yang diisolasi dari tanah anaerob yang mengandung bakteri. lmunisasi dengan 
mengaktivasi derivat tersebut menghasilkan pencegahan dari tetanus. ( Nicalaier 
1884, Behring dan Kitasato 1890 ). 
 Spora Clostridium tetani biasanya masuk kedalam tubuh melalui luka pada 
kulit oleh karena terpotong , tertusuk ataupun luka bakar serta pada infeksi tali 
pusat (Tetanus Neonatorum ). 
(1,2,3,9,10,14) 
 
ETIOLOGI 
Tetanus disebabkan oleh bakteri gram positif; Cloastridium tetani Bakteri ini 
berspora, dijumpai pada tinja binatang terutama kuda, juga bisa pada manusia dan 
juga pada tanah yang terkontaminasi dengan tinja binatang tersebut. Spora ini bisa 
tahan beberapa bulan bahkan beberapa tahun, jika ia menginfeksi luka seseorang 
atau bersamaan dengan benda daging atau bakteri lain, ia akan memasuki tubuh 
penderita tersebut, lalu mengeluarkan toksin yang bernama tetanospasmin. Pada negara belum berkembang, tetanus sering dijumpai pada neonatus, 
bakteri  masuk melalui tali pusat sewaktu persalinan yang tidak baik, tetanus ini 
dikenal dengan nama tetanus neonatorum. 

 
PATOGENESE 
Tetanospasmin adalah toksin yang menyebabkan spasme,bekerja pada beberapa 
level dari susunan syaraf pusat, dengan cara : 
a.Tobin menghalangi neuromuscular transmission dengan cara menghambat 
pelepasan acethyl-choline dari terminal nerve di otot. 
b.Kharekteristik spasme dari tetanus ( seperti strichmine ) terjadi karena toksin 
mengganggu fungsi dari refleks synaptik di spinal cord. 
c.Kejang pada tetanus, mungkin disebabkan pengikatan dari toksin oleh cerebral 
ganglioside. 
d.Beberapa penderita mengalami gangguan dari Autonomik Nervous System 
(ANS ) dengan gejala : berkeringat, hipertensi yang fluktuasi, periodisiti 
takikhardia, aritmia jantung, peninggian cathecholamine dalam urine
. (1,9,12) 
Kerja dari tetanospamin analog dengan strychninee, dimana ia mengintervensi 
fungsi dari arcus refleks yaitu dengan cara menekan neuron spinal dan menginhibisi 
terhadap batang otak. 
(1)
?2004 Digitized by USU digital library 
1
Timbulnya kegagalan mekanisme inhibisi yang normal, yang menyebabkan 
meningkatnya aktifitas dari neuron Yang mensarafi otot masetter sehingga terjadi 
trismus. Oleh karena otot masetter adalah otot yang paling sensitif terhadap toksin 
tetanus tersebut. Stimuli terhadap afferen tidak hanya menimbulkan kontraksi yang 
kuat, tetapi juga dihilangkannya kontraksi agonis dan antagonis sehingga timbul 
spasme otot yang khas . 
Ada dua hipotesis tentang cara bekerjanya toksin, yaitu: 
1. Toksin diabsorbsi pada ujung syaraf motorik dari melalui sumbu silindrik 
dibawa kekornu anterior susunan syaraf pusat 
2. Toksin diabsorbsi oleh susunan limfatik, masuk kedalam sirkulasi darah arteri 
kemudian masuk kedalam susunan syaraf pusat. 
 
PATHOLOGI 
Toksin tetanospamin menyebar dari saraf perifer secara ascending bermigrasi 
secara sentripetal atau secara retrogard mcncapai CNS. Penjalaran terjadi didalam 
axis silinder dari sarung parineural. Teori terbaru berpendapat bahwa toksin juga 
menyebar secara luas melalui darah (hematogen) dan jaringan/sistem lymphatic

GEJALA KLINIS 
Masa inkubasi 5-14 hari, tetapi bisa lebih pendek (1 hari atau lebih lama 3 
atau beberapa minggu ). 

Ada tiga bentuk tetanus yang dikenal secara klinis, yakni :
1. Localited tetanus ( Tetanus Lokal ) 
2. Cephalic Tetanus 
3. Generalized tetanus (Tctanus umum) 
Selain itu ada lagi pembagian berupa neonatal tetanus 

Gejala dan Ciri-rici dari tetanus  : 

- Kejang bertambah berat selama 3 hari pertama, dan menetap selama 5 -7 hari. 
- Setelah 10 hari kejang mulai berkurang frekwensinya 
- Setelah 2 minggu kejang mulai hilang. 
- Biasanya didahului dengan ketegangaan otot terutama pada rahang dari leher. 
Kemudian timbul kesukaran membuka mulut ( trismus, lockjaw ) karena spasme  
Otot masetter. 
- Kejang otot berlanjut ke kaku kuduk ( opistotonus , nuchal rigidity ) 
- Risus sardonicus karena spasme otot muka dengan gambaran alis tertarik 
keatas, sudut mulut tertarik keluar dan ke bawah, bibir tertekan kuat . 
- Gambaran Umum yang khas berupa badan kaku dengan opistotonus, tungkai 
dengan 
- Eksistensi, lengan kaku dengan mengepal, biasanya kesadaran tetap baik. 
- Karena kontraksi otot yang sangat kuat, dapat terjadi asfiksia dan sianosis, 
retensi urin, bahkan dapat terjadi fraktur collumna vertebralis ( pada anak ). 
 
-tetanus lokal (lokalited Tetanus) 
Pada lokal tetanus dijumpai adanya kontraksi otot yang persisten, pada 
daerah tempat dimana luka terjadi (agonis, antagonis, dan fixator). Hal inilah 
merupakan tanda dari tetanus lokal. Kontraksi otot tersebut biasanya ringan, bisa 
bertahan dalam beberapa bulan tanpa progressif dan biasanya menghilang secara 
bertahap. 
Lokal tetanus ini bisa berlanjut menjadi generalized tetanus, tetapi dalam 
bentuk yang ringan dan jarang menimbulkan kematian. Bisajuga lokal tetanus ini 
dijumpai sebagai prodromal dari klasik tetanus atau dijumpai secara terpisah. Hal ini 
terutama dijumpai sesudah pemberian profilaksis antitoksin. 

 
- Cephalic tetanus 
Cephalic  tetanus  adalah  bentuk  yang jarang dari tetanus. Masa inkubasi berkisar 1 
?2 hari, yang berasal dari otitis media kronik (seperti dilaporkan di India ), luka pada  
daerah  muka dan kepala, termasuk adanya benda asing dalam rongga hidung. 
 
- Generalized Tetanus  
Bentuk ini yang paling banyak dikenal. Sering menyebabkan komplikasi yang tidak 
dikenal beberapa tetanus lokal oleh karena gejala timbul secara diam-diam. Trismus 
merupakan gejala utama yang sering dijumpai ( 50 %), yang disebabkan oleh 
kekakuan otot-otot masseter, bersamaan dengan kekakuan otot leher yang 
menyebabkan terjadinya kaku kuduk dan kesulitan menelan. Gejala lain berupa 
Risus Sardonicus (Sardonic grin) yakni spasme otot-otot muka, opistotonus ( 
kekakuan otot punggung), kejang dinding perut. Spasme dari laring dan otot-otot 
pernafasan bisa menimbulkan sumbatan saluran nafas, sianose asfiksia. Bisa terjadi 
disuria dan retensi urine,kompressi frak tur dan pendarahan didalam otot. Kenaikan 
temperatur biasanya hanya sedikit, tetapi begitupun bisa mencapai 40 C. Bila 
dijumpai hipertermi ataupun hipotermi, tekanan darah tidak stabil dan dijumpai 
takhikardia, penderita biasanya meninggal. Diagnosa ditegakkan hanya berdasarkan 
gejala klinis. 
 
 - Neotal tetanus 
Biasanya disebabkan infeksi C. tetani, yang masuk melalui tali pusat sewaktu 
proses pertolongan persalinan. Spora yang masuk disebabkan oleh proses 
pertolongan  persalinan yang tidak steril, baik oleh penggunaan alat yang telah 
terkontaminasi spora C.tetani, maupun penggunaan obat-obatan Wltuk tali pusat 
yang telah terkontaminasi. 
Kebiasaan menggunakan alat pertolongan persalinan dan obat tradisional 
yang tidak steril,merupakan faktor yang utama dalam terjadinya neonatal tetanus. 
Menurut penelitian E.Hamid.dkk, Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS Dr.Pringadi Medan, 
pada tahun 1981. ada 42 kasus dan tahun 1982 ada 40 kasus tetanus
  Biasanya ditolong melalui tenaga persalianan tradisional ( TBA =Traditional  Birth Attedence ) 
56 kasus ( 68,29 % ), tenaga bidan 20 kasus ( 24,39 % ) ,dan selebihnya melalui 
dokter 6 kasus ( 7, 32 %) ). 
 
 DIAGNOSIS 
 Diagnosis tetanus dapat diketahui dari pemeriksaan fisik pasien sewaktu istirahat, 
berupa :1.Gejala klinik 
- Kejang tetanic, trismus, dysphagia, risus sardonicus ( sardonic smile ). 
 
2. Adanya luka yang mendahuluinya. Luka adakalanya sudah dilupakan. 
3. Kultur: C. tetani (+). 
4. Lab : SGOT, CPK meninggi serta dijumpai myoglobinuria.

 
DIAGNOSIS BANDlNG 
 
Untuk membedakan diagnosis banding dari tetanus, tidak akan sular sekali 
dijumpati dari pemeriksaan fisik, laboratorium test (dimana cairan serebrospinal 
normal dan pemeriksaan darah rutin normal atau sedikit meninggi, sedangkan SGOT, 
CPK dan SERUM aldolase sedikit meninggi karena kekakuan otot-otot tubuh), serta 
riwayat imunisasi, kekakuan otot-otot tubuh), risus sardinicus dan kesadaran yang 
tetap normal. 
 
 PROGNOSIS 
Prognosis tetanus diklassikasikan dari tingkat keganasannya, dimana : 
1. Ringan; bila tidak adanya kejang umum ( generalized spsm ) 
2. Sedang; bila sekali muncul kejang umum 
3. Berat ; bila kejang umum yang berat sering terjadi. 
Masa inkubasi neonatal tetanus berkisar antara 3 -14 hari, tetapi bisa lebih pendek  
atau pun lebih panjang. Berat ringannya penyakit juga tergantung pada lamanya 
masa inkubasi, makin pendek masa inkubasi biasanya prognosa makin jelek. 
Prognosa tetanus neonatal jelek bila: 
1. Umur bayi kurang dari 7 hari 
2. Masa inkubasi 7 hari atau kurang 
3. Periode timbulnya gejala kurang dari 18 ,jam 
4. Dijumpai muscular spasm. 
(1,6.8,10,12,13)
Case Fatality Rate ( CFR) tetanus berkisar 44-55%, sedangkan tetanus 
neonatorum > 60%. 
 
KOMPLIKASI 
Komplikasi pada tetanus yaang sering dijumpai: laringospasm, kekakuan 
otot-otot pematasan atau terjadinya akumulasi sekresi berupa pneumonia dan 
atelektase serta kompressi fraktur vertebra dan laserasi lidah akibat kejang. Selain 
itu bisa terjadi rhabdomyolisis dan renal failure 

 
B. Obat- obatan 
 
- Antibiotika : 
Diberikan parenteral Peniciline 1,2juta unit / hari selama 10 hari, IM. 
Sedangkan tetanus pada anak dapat diberikan Peniciline dosis 50.000 Unit / KgBB/ 
12 jam secafa IM diberikan selama 7-10 hari. Bila sensitif terhadap peniciline, obat 
dapat diganti dengan preparat lain seperti tetrasiklin dosis 30-40 mg/kgBB/ 24 jam, 
tetapi dosis tidak melebihi 2 gram dan diberikan dalam dosis terbagi ( 4 dosis ). Bila 
tersedia  Peniciline  intravena,  dapat  digunakan  dengan  dosis 200.000 unit /kgBB/  
24 jam, dibagi 6 dosis selama 10 hari. 
Antibiotika ini hanya bertujuan membunuh bentuk vegetatif dari C.tetani, 
bukan untuk toksin yang dihasilkannya. Bila dijumpai adanya komplikasi pemberian 
antibiotika broad spektrum dapat dilakukan

 
- Antitoksin 
Antitoksin dapat digunakan Human Tetanus Immunoglobulin ( TIG) dengan 
dosis 3000-6000 U, satu kali pemberian saja, secara IM tidak boleh diberikan secara 
intravena karena TIG mengandung "anti complementary aggregates of globulin ", 
yang mana ini dapat mencetuskan reaksi allergi yang serius. 
Bila TIG tidak ada, dianjurkan untuk menggunakan tetanus antitoksin, yang 
berawal dari hewan, dengan dosis 40.000 U, dengan cara pemberiannya adalah : 
20.000 U  dari antitoksin dimasukkan kedalam 200 cc cairan NaC1 fisiologis dan 
diberikan secara intravena, pemberian harus sudah diselesaikan dalam waktu 30-45 
menit. Setengah dosis yang tersisa (20.000 U) diberikan secara IM pada daerah 
pada sebelah luar

- Tetanus Toksoid 
Pemberian Tetanus Toksoid (TT) yang pertama,dilakukan bersamaan dengan 
pemberian antitoksin tetapi pada sisi yang berbeda dengan alat suntik yang berbeda. 
Pemberian dilakukan secara I.M. Pemberian TT harus dilanjutkan sampai imunisasi 
dasar terhadap tetanus selesai. 
Berikut ini, tabel 4. Memperlihatkan petunjuk pencegahan terhadap tetanus 
pada keadaan luka 
 
 
 
Sumber : http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3456/3/penysaraf-kiking2.pdf.txt 

0 comments:

Post a Comment